Tantangan Islamysasi Pendidikan
Mengapa hal ini bisa terjadi? Tambahnya, karena dalam pendidikan islam peserta didik mendapat ilmu itu bukan sekedar pemahaman. Tetapi, ada sipirit sipiritualitas di dalamnya. Sehingga bila peserta didik ini, baik mahasiswa atau siswa mendapatkan ilmu mereka akan tersentuh nuraninya. Selanjutnya, akan timbul perasaan takjub dalam diri mereka terhadap keagungan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hanya saja untuk menerapkan nilai-nilai islamy ini, khususnya dalam lembaga pendidikan yang kurikulumnya tidak berbasis agama, tantangannya cukup berat. Sebab, kondisi pendidikan yang dianut selama ini sudah terlanjur tidak kondusif untuk pendidikan islami. Artinya telah terjadi pengklasifikasian ilmu. Padahal dalam islam tidak mengenal perbedaan ilmu, semua ilmu itu penting walaupun beberapa ulama masih berbeda pendapat terkait hal ini.
�akibatnya adalah, kehadiran konsep pendidikan islamisasi ini jadinya terkesan asing� jelas Mustanir.
Selain itu tantangan lainnya adalah, tambah Mustanir, saat ini belum ada indikator yang jelas untuk mengukur keberhasilan praktik islamisasi pendidikan. Padahal, sebelum menerapkan konsep yang tepat untuk mewujudkan tujuan islamisasi pendidikan itu, hal yang lebih utama adalah menentukan terlebih dahulu indikator-indikator apa saja yang digunakan untuk mengukurnya. Bila indikator islamisasi pendidikan masih belum jelas, maka belum bisa menyusun kurikulum pendidikan islami yang tepat. Dampak dari hal ini adalah, bila masing-masing lembaga pendidikan berinisiatif untuk menerapkan praktik islamisasi pendidikan konsepnya akan liar.
�Apakah keberhasilan islamisasi pendidikan itu ditandai dengan banyaknya mushalla di sekolah/kampus, nah ini yang belum disepakati� ujarnya.
Untuk praktiknya saat ini, Mustanir mencontohkan apa yang telah berlangsung di Unsyiah, khususnya di fakultas MIPA yang dipimpinnya. Bahwa di ruang kelas ia menghimbau, agar para dosen dalam menyampaikan materi kuliahnnya harus menyelipkan nilai-nilai islami kepada mahasiswa. Namun, ia juga mengakui bahwa tetap ada kendala dalam pelaksanaannya, yaitu terkait kompetensi dosen itu sendiri dalam pemahamannya terhadap pendidikan islami. Mengapa hal ini terjadi, Mustanir menyimpulkan, bahwa semua itu adala akibat dari produk pendidikan sekuler yang telah dianut selama ini.
Mengingat begitu banyaknya tantangan dalam pelaksanaan islamisasi pendidikan, Mustanir menghimbau, agar para pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan pendidikan islam harus tetap optimis. Apalagi ia menilai, akhir-akhir ini kondisi remaja kian mengkhawatirkan. Seperti semakin merebaknya game online yang dapat menurunkan pruduktifitasnya, bahkan yang lebih miris lagi sampai meninggalkan shalat.
�jadi tantangannya memang berat, tapi kita harus tetap optimis dalam pelaksanaan islamysasi pendidikan ini� simpulnya.